Langsung ke konten utama

ARTIKEL 7: DEPOSISI ASAM

Hai Sobat Chemist! Pada kali ini, aku akan membahas tentang beberapa analisis masalah yang telah dilakukan secara berkelompok mengenai deposisi asam antara lain:

  • Cemaran gas dan polutan yang bersifat asam yang terdeposisi basah menyebabkan air hujan bersifat lebih asam yang dapat dikategorikan sebagai hujan asam.
  • Dampak hujan asam terhadap ekosistem dan organisme di dalamnya khususnya pada ekosistem perairan.
  • Dampak deposisi asam terhadap lingkungan.
  • Pengaruh pH terhadap kelangsungan hidup biota air.

Ke-empat masalah tersebut akan dibahas satu persatu melalui artikel ini

Hujan Asam



Hujan asam yaitu asam yang turun dalam bentuk hujan, hujan asam dapat terjadi apabila asam di udara larut ke dalam partikel air di awan. Hujan asam juga dapat  terjadi akibat hujan turun melalui udara yang bersifat asam sehingga asam larut dalam  air hujan dan jatuh ke tanah. Asam yang terkandung dalam hujan asam adalah asam sulfat (H2SO4 ) dan asam nitrat (HNO3) , keduanya  asam kuat. Asam sulfat berasal dari  asam nitrat dari gas NOx dan gas SO2. (Erni, 2007). Desain penyelesaian masalah untuk mengurangi terjadinya cemaran gas dan polutan bersifat asam yang terdeposisi basah menyebabkan air hujan bersifat lebih asam yang dikategorikan sebagai hujan asam, dapat dilakukan dengan upaya-upaya penanggulangan polutan  diantaranya :

  1. Menggunakan bahan bakar dengan kandungan belerang rendah

Menggunakan gas alami dapat meminimalisir emisi zat pembentukan asam. Cara lain yaitu dengan  menggunakan bahan bakar alternatif yang tidak mengandung belerang dan nitrogen, antara lain, metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi, penggantian haruslah dilakukan dengan hati-hati.

  1. Meminimalisir kandungan belerang saat sebelum pembakaran

Meminimalisir dengan cara mengurangi kadar belerang dalam bahan bakar menggunakan proses pencucian dalam produksi batu bara, proses pencucian ini bertujuan untuk meleburkan batu bara dari pasir, kotoran, tanah dan juga mengurangi kadar belerang yang berbentuk besi sulfida sampai 50-90%.

  1. Mengurangi emisi SO2 dan NOx menggunakan teknologi  LIMB (lime injection in multiple burner)

Menggunakan teknologi LIMB emisi yang ditimbulkan dari SO2 dapat berkurang hingga 80% dan NOx 50%. Cara kerja pada teknologi ini yaitu kapur disuntikkan secara internal ke dalam dapur pembakaran dan suhu pada pembakaran diturunkan dengan alat pembakaran khusus. Kapur bereaksi dengan belerang untuk membentuk kalsium sulfat dihidrat. Penurunan suhu membuat terjadinya penurunan pembentukan NOx yang ada di dalam bahan bakar maupun yang dari nitrogen di udara.

  1. Menggunakan pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan FGD ( flue gas desulfurization)

Flue gas desulfurization  (FGD) adalah teknologi yang digunakan  untuk menghilangkan gas yang mengandung belerang. Contoh dari  FGD yaitu wet scrubber yang umum digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Wet scrubber yaitu tower yang dilengkapi dengan kipas yang memikat  asap dari cerobong ke tower tersebut. Batu kapur atau kapur dalam bentuk bubur juga disuntikan ke ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur dioksida yang tersedia, kalsium karbonat dalam batu kapur menghasilkan kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah polusi menjadi sulfat industri.

  1. Dalam pabrik atau industri cara meminimalisir polutan  diantaranya yaitu :

      Mengurangi temperatur pembakaran pada semua reaksi dibawah 1300 ̊C

      Mengurangi waktu tinggi pada zona temperatur tinggi dan memodifikasi sistem pembakaran dengan cara mengatur injeksi udara

      menggunakan burner yang didesain menghasilkan gas NO2 rendah.

 

Adapun cara menanggulangi dampak hujan asam terhadap ekosistem dan organisme di dalamnya khususnya pada ekosistem perairan yaitu :

      Air dari hujan asam dapat meningkatkan kadar keasaman tanah yang berpengaruh terhadap kualitas sumber air dari tanah serta kualitas pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu penyelesaian masalah terhadap pencemaran tanah akibat air hujan asam dapat dilakukan dengan melakukan penetralan tanah dan penyuburan tanah. Apabila setelah diukur diketahui nilai pH tanah asam maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan nilai pH-nya dengan cara pengapuran dengan Kapur Pertanian atau Dolomit. Pengukuran nilai pH tanah sangat penting dilakukan sebelum menaburkan Kapur Pertanian/Dolomit guna menentukan dosis yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Perlakuan penaburan kapur pertanian/dolomit ini idealnya dilakukan minimal 40 hari sebelum pemupukan, artinya tidak dianjurkan melakukan pemupukan dan pengapuran menggunakan dolomit secara bersamaan (Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, 2019).


Laporan Praktikum dapat dilihat dibawah ini:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARTIKEL 5: AIR BERSIH DI INDONESIA: PENGGUNAAN DAN PENGARUHNYA

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penting untuk keberlangsungan hidup. Di Indonesia, masalah air bersih masih menjadi perhatian yang besar. Meskipun Indonesia memiliki banyak sumber air, tetapi kualitas air yang dimiliki masih rendah. Pengaruh dari kualitas air yang rendah adalah meningkatnya risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar. Pada tahun 2018, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 60% dari seluruh kasus penyakit di Indonesia disebabkan oleh air yang tercemar. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan dan harus segera diatasi. Penggunaan air bersih di Indonesia juga masih belum optimal. Banyak masyarakat, terutama di daerah pedesaan, yang masih sulit untuk mendapatkan akses pada air bersih. Pada tahun 2018, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa hanya 71,5% dari seluruh rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses pada air bersih. Namun, penggunaan air bersih di Indonesia tidak hanya terkait dengan kebutuhan dasar manusia. Industri...

ARTIKEL 4: TINDAKAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENGURANGI EFEK RUMAH KACA

  Sumber: google.com Efek rumah kaca merupakan masalah serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Dampaknya yang merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan hidup manusia harus diatasi dengan cara-cara yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dan peran aktif dari semua pihak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga kelestarian lingkungan. Memang tidak mudah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi jika semua pihak berperan aktif dan mengambil tindakan yang tepat, dampak efek rumah kaca dapat diminimalisir dan lingkungan dapat dijaga dengan baik. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai tindakan untuk mengatasi efek rumah kaca, seperti mengadopsi kebijakan nasional dalam pengurangan emisi gas rumah kaca dan pengembangan energi terbarukan. Pemerintah juga telah membentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau dan meningkatkan kesadaran ...